![]() |
| Ilustrasi bonus demografi |
Rabu, 02 Maret 2016
Indonesia merupakan Negara berkembang dengan jumlah
penduduk ke-4 terbanyak di dunia. Menurut data resmi sensus penduduk pada tahun
2010 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memiliki jumlah penduduk
sebanyak 237,6 juta jiwa dan diprediksi akan terus meningkat setiap tahunnya. Bahkan,
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memproyeksikan bahwa jumlah
penduduk Indonesia pada tahun 2035 mendatang berjumlah 305,6 juta jiwa. Jumlah
ini meningkat 28,6 persen dari tahun 2010.
Sedangkan pada tahun 2015 BPS memproyeksikan jumlah penduduk Indonesia adalah
252,2 juta jiwa. Peningkatan
jumlah penduduk seperti ini sebenarnya sudah diminimalisir dengan adanya Gerakan
Keluarga Berencana Nasional Indonesia yang dimulai sejak tahun 70-an. Meski begitu,
jumlah penduduk Indonesia masih terus meningkat dan ditambah lagi dengan
meningkatnya penduduk berusia produktif (usia 15 tahun sampai 65 tahun) atau
yang diistilahkan sebagai bonus demografi.
Mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)
atau Kepala Bappenas periode 2009-2014 Armida S Alisjahbana
mengatakan, Indonesia
telah memasuki bonus demografi (rasio ketergantungan terhadap penduduk tak
produktif) sejak tahun 2012, yakni 49,6 persen. . Itu artinya, setiap 100 orang
penduduk usia produktif menanggung 50
orang penduduk usia tidak produktif (< 15 tahun dan ≥ 65 tahun). Atas dasar itu, penduduk
Indonesia yang produktif lebih banyak daripada penduduk yang tak produktif. Pada tahun 2010, proporsi
penduduk usia produktif adalah sebesar 66,5 persen. Proporsi ini terus
meningkat mencapai 68,1 persen pada tahun 2028 sampai tahun 2031. Meningkatnya
jumlah penduduk usia produktif menyebabkan menurunnya angka ketergantungan,
yaitu jumlah penduduk usia tidak produktif yang ditanggung oleh 100 orang
penduduk usia produktif dari 50,5 persen pada tahun 2010 menjadi 46,9 persen
pada periode 2028-2031. Tetapi angka ketergantungan ini mulai naik kembali
menjadi 47,3 persen pada tahun 2035.
Sementara
itu, menurut data BPS jumlah angkatan kerja tahun 2015 di Indonesia sebanyak
128,3 juta orang. Pada tahun 2015, angka rasio ketergantungan sebesar 48,6. Itu
artinya, setiap 100 orang penduduk usia produktif menanggung 49 orang penduduk
usia tidak produktif (< 15 tahun dan ≥ 65 tahun). Namun rasio ketergantungan
cenderung menurun belakangan setelah sempat mencapai 70% dan diperkirakan akan
mencapai titik terendah pada 2020-2030. Hal ini sejalan dengan
laporan PBB, yang menyatakan bahwa dibandingkan dengan negara Asia lainnya,
angka ketergantungan penduduk Indonesia akan terus turun sampai 2020. Pada
periode itu akan terdapat peluang lebih besar untuk melakukan investasi manusia
guna mendorong produksi.
Gambaran konkretnya, jika rasio
ketergantungan pada tahun 1971 masih tercatat angka 86, maka pada 2000 turun
menjadi 54,7 dan turun lagi menjadi hanya 51 pada 2010. Artinya, jika setiap
100 penduduk usia produktif pada 1971 harus membiayai hidup sebanyak 86
penduduk usia tidak produktif, maka tahun 2000 turun menjadi 54,7 penduduk dan
turun lagi menjadi hanya 51 penduduk pada 2010.
Sepuluh tahun berikutnya, tahun 2020, angka ketergantungan itu
diperkirakan akan mengalami titik paling rendah karena setiap 100 penduduk usia
produktif hanya akan menanggung 44 penduduk tidak produktif dan diperkirakan
akan berlangsung hingga 2030. Jelasnya, jumlah maupun besarnya proporsi
penduduk yang potensial bisa bekerja—sering disebut juga sebagai mesin
pertumbuhan (engine of growth)— dalam periode 10 tahun itu akan mencapai
dua kali lipat lebih dibanding jumlah dan proporsi penduduk yang harus mereka tanggung.
Dampak ekonomisnya, pada saat itu
diharapkan akan lebih banyak lagi jumlah penduduk yang bisa menghasilkan dan
menabungsertamenginvestasikan kembali tabungannya untuk terus meningkatkan
produktivitas dan kesejahteraannya. Inilah momentum bagi bangsa Indonesia,
dengan jumlah penduduknya terbesar keempat di dunia, untuk bangkit dari
berbagai ketertinggalannya termasuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya.
Itulah fenomena demografis sekaligus
jendela peluang (window of opportunity), yang oleh para pakar
kependudukan disebut “bonus demografi” (demographic dividend) yang akan
terjadi hanya satu kali dalam sejarah kependudukan sebuah bangsa. Mengapa?
Karena setelah kurun waktu 2030, angka ketergantungan itu diperkirakan akan kembali
mengalami peningkatan. Bukan
karena adanya peningkatan usia di bawah 15 tahun, melainkan karena semakin
meningkatnya penduduk lansia sebagai dampak dari semakin meningkatnya rata-rata
usia harapan hidup. Dalam evolusi kependudukan, sebuah negara akan mengalami
sekaligus menikmati bonus demografi ketika angka ketergantungan penduduknya
berada di rentang antara 40–50, yang berarti bahwa 100 orang usia produktif
hanya menanggung 40–50 penduduk usia tidak produktif.
Dengan kriteria di atas, tercatat
sejumlah negara di Eropa yang telah melewati masa keemasan bonus demografinya
karena terjadi secara bervariasi antara 1950–2000. Sementara China sudah mulai
menikmati bonus demografinya sejak 1990 dan akan berlangsung hingga 2015. India,
hampir sama dengan Indonesia, terjadi mulai 2010, disusul negara-negara di
belahan Afrika yang bonus demografinya diperkirakan akan datang lebih lambat
lagi dan akan berakhir hingga 2045.
Namun, peluang emas yang merupakan
bonus demografi itu tidak akan terjadi secara linier, apalagi datang begitu
saja secara taken for granted. Artinya, butuh prasyarat untuk bisa
mewujudkannya. Butuh konsep matang dan realistik untuk mempersiapkannya.
Menteri
PPN/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago yang menjadi salah satu pembicara forum High-level Dialogue on
Capitalizing on the Demographic Dividend yang diselenggarakan berkat
kerja sama Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI) serta United
Nations Population Fund (UNFPA) tahun 2015 menggaris bawahi pentingnya
kesiapan Indonesia menyambut tahun 2020-2030, periode terjadinya bonus
demografi, yakni bonus yang dinikmati karena besarnya proporsi penduduk
produktif dalam rentang usia 15-64 tahun. Menteri Andrinof mengungkapkan
manfaat bonus demografi bisa dinikmati dengan dua cara jitu, meningkatkan
kualitas penduduk dan menelaah mobilitas penduduk. Untuk mewujudkan generasi
berkualitas, masyarakat harus memiliki etos kerja yang gigih guna meningkatkan
produktivitas. UNFPA Executive
Director and Chair of the WEF Global
Council on the Demographic Dividend Babatunde Osotimehin juga menyatakan
kualitas penduduk menjadi kunci keberhasilan Indonesia dalam memanfaatkan bonus
demografi. Seiring dengan pentingnya fokus pembangunan infrastuktur,
Indonesia juga harus fokus pada pembangunan non fisik. Indonesia butuh investasi
di edukasi formal dan vokasional serta kesehatan.
Karena itu, paling tidak ada dua
agenda besar yang harus dilakukan bangsa pada saat ini. Agenda besar pertama dan utama adalah
menyangkut upaya untuk terus meningkatkan sekaligus mengakselerasi pendidikan penduduknya,
termasuk derajat kesehatannya. Logikanya, bagaimana mungkin produktivitas
penduduk muda itu bisa ditingkatkan jika kebanyakan di antara mereka hanya
memiliki ijazah SD atau SMP seperti umumnya potret saat ini. Bagaimana
mungkin produktivitas penduduk usia muda itu juga bisa ditingkatkan jika
kondisi fisik mereka begitu rentan dengan banyak penyakit lantaran kekurangan
gizi dan sebagainya. Jangan lupa, bagaimana mungkin produktivitas penduduk usia
muda itu juga bisa ditingkatkan jika pemerintah gagal menyediakan lapangan
kerja yang mereka butuhkan. Di situlah pula relevansinya bagi
bangsaini—salahsatunya—untuk terus mengembangkan lebih banyak sekolah, termasuk
perguruan tinggi berbasis vokasi atau kejuruan yang diarahkan pada upaya
memperkuat sekaligus memperluas pusat-pusat pertumbuhan ekonomi setiap wilayah.
Agenda besar kedua adalah peningkatan
kualitas program Keluarga Berencana (KB) supaya kedepannya program ini
dapat lebih luas dan merata dalam
menjangkau setiap keluarga Indonesia agar jumlah anak setiap keluarga dapat semakin
dikontrol. Pasalnya, jika kualitas program KB tidak
mengalami kemajuan maka angka kelahiran (fertilitas) dapat kembali meningkat, dan
hampir bisa dipastikan bahwa angka ketergantungan penduduk juga akan kembali
mengalami peningkatan. Dampaknya, peluang emas yang diproyeksikan bakal terjadi
pada 2020–2030 itu bukan saja akan mengalami kemunduran melainkan juga akan
sulit diwujudkan.
Bonus
demografi memang merupakan berkah bagi suatu Negara, namun juga bisa jadi
bencana jika Negara tidak menyiapkan sedari dini akan datangnya masa bonus
demografi tersebut. Semoga saja Indonesia bisa menjadi salah satu Negara yang
dapat memetik buah manis dari bonus demografi yang diproyeksikan akan terjadi
pada tahun 2020-2030 tersebut.
Salam GenRe. J
Sumber :
http://www.academia.edu/7188182/BONUS
read more
Indonesia merupakan
Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari sekitar 17.508 pulau,
tersebar dari Sabang sampai Merauke, dengan luas wilayah daratan ± 2.012.402 km2 dan luas perairan ± 5.877.879 km2. Dengan wilayah yang
begitu luas, mau tidak mau Indonesia harus menanggung segudang permasalahan
kependudukan. Sebaliknya apabila bisa diatasi dengan baik maka dapat menjadi
hal yang mampu membawa Indonesia lebih dekat menuju cita-citanya yaitu menjadi
bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur sebagaimana tercantum
dalam Pembukaan UUD 1945. Untuk dapat mengidentifikasi permasalahan
kependudukan yang ada saat ini maka terlebih dahulu harus mengetahui bagaimana
sebenarnya gambaran umum kependudukan di Indonesia sendiri. Berikut ini
beberapa gambaran kependudukan di Indonesia :
1. Jumlah Populasi
Jumlah penduduk Indonesia adalah 237.641.326 jiwa
menurut data resmi sensus penduduk 2010 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat
Statistik (BPS). Sedangkan jumlah penduduk Indonesia menurut data statistik
yang dikeluarkan BPS tahun 2015 sebanyak 252.164.800 jiwa.
![]() |
| Sumber: Statistik Indonesia 2015 |
Jumlah tersebut merupakan jumlah proyeksi penduduk
yang didapat dari pengolahan hasil sensus penduduk
tahun 2010, karena sensus penduduk dilakukan sepuluh tahun sekali. Dengan
jumlah sebanyak itu, Indonesia masih berada di peringkat ke-4 negara
berpenduduk terbanyak di dunia, setelah China, India dan Amerika Serikat. Jumlah
penduduk yang besar ini sebenarnya bisa menjadi masalah, bisa juga menjadi aset
suatu negara. Masalahnya adalah penduduk bisa menjadi aset jikalau kualitas
penduduknya pun baik, sebaliknya, jika kualitas penduduknya buruk maka hanya
akan menjadi masalah bagi Negara itu sendiri.
2. Prevalensi Kontrasepsi
Dalam
kurun waktu 30 tahun, 1961-1990, jumlah penduduk Indonesia meledak 2 kali
lipat, semula 97,1 juta jiwa menjadi 179,4 juta jiwa. Hal ini mengakibatkan pos
pelayanan terpadu (posyandu) sangat mengemuka dalam pelayanan kesehatan ibu dan
anak. Selain itu, posyandu juga berperan sebagai ujung tombak Keluarga
Berencana (KB), yang mengatur laju pertumbuhan jumlah penduduk melalui berbagai
kontrasepsi. Angka
Prevalensi Pemakaian Kontrasepsi adalah angka yang menunjukkan berapa banyaknya
Pasangan Usia Subur (PUS) yang sedang memakai
kontrasepsi pada saat pencacahan dibandingkan dengan seluruh PUS.
Angka
Prevelensi Kontrasepsi ini sering disebut dengan CPR (Contraceptive Prevalence Rate). Informasi
tentang besarnya CPR sangat bermanfaat untuk menetapkan kebijakan pengendalian
kependudukan, serta penyediaan pelayanan KB baik dalam bentuk mempersiapkan
pelayanan kontrasepsi seperti sterilisasi, pemasangan IUD, persiapan alat dan
obat kontrasepsi, serta pelayanan konseling untuk menampung kebutuhan dan
menanggapi keluhan pemakaian kontrasepsi.
![]() |
| sumber: infodatin Kementrian Kesehatan RI 2014 |
Data SDKI 2012 menunjukkan tren Prevalensi Penggunaan Kontrasepsi atau Contraceptive
Prevalence Rate (CPR) di Indonesia sejak 1992-2012 cenderung meningkat,
sementara tren Angka Fertilitas atau Total Fertility Rate (TFR) cenderung
menurun. Hal
ini menunjukan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia dalam program Keluarga
Berencana cukup besar, dilihat dari tingginya angka pemakaian kontrasepsi. Namun, efek yang timbul dari program ini
belum nampak terlihat karena jumlah penduduk tetap besar dan keluarga kecil
yang terdiri dari dua anak pun masih jarang.
3. Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate)
Angka
kematian kasar (Crude Death Rate) adalah
angka yang menunjukkan banyaknya kematian untuk setiap 1000 orang penduduk pada
pertengahan tahun yang terjadi pada suatu daerah pada waktu tertentu. Angka kematian kasar adalah indikator sederhana yang
tidak memperhitungkan pengaruh umur penduduk. Sehingga angka ini berguna untuk
memberikan gambaran kepada kesejahteraan penduduk pada suatu tahun yang
bersangkutan.
Angka
kematian kasar Indonesia menurut World
Health Organization (WHO) tahun 2014 adalah sebesar 6 dari 1000
penduduk Indonesia. Angka kematian bayi saat ini di Indonesia sudah membaik,
namun angka kematian ibu melahirkan masih tinggi. Hal tersebut terjadi karena
kurangnya perhatian terhadap ibu hamil dan bayinya pada saat mengandung. Dengan angka kematian kasar
sebesar itu, Indonesia berada pada peringkat 155 diantara 224
negara di dunia. Namun di ASEAN, angka kematian kasar Indonesia
lebih baik dibandingkan Laos dan
Thailand. Sedangkan angka kematian kasar terkecil didominasi oleh Negara di Timur Tengah.
4. Angka Ketergantungan (Dependency
Ratio)
Rasio
Ketergantungan (Dependency
Ratio) adalah perbandingan antara jumlah penduduk umur 0-14 tahun, ditambah
dengan jumlah penduduk 65 tahun ke atas (keduanya disebut dengan bukan angkatan
kerja) dibandingkan dengan jumlah pendduk usia 15-64 tahun (angkatan kerja).
Menurut data BPS, jumlah angkatan kerja tahun 2015 di Indonesia sebanyak 128,3
juta orang. Pada tahun 2015, angka rasio ketergantungan sebesar 48,6. Itu
artinya, setiap 100 orang penduduk usia produktif menanggung 49 orang penduduk
usia tidak produktif (< 15 tahun dan ≥ 65 tahun). Namun rasio ketergantungan
cenderung menurun belakangan setelah sempat mencapai 70% dan diperkirakan akan
mencapai titik terendah pada 2020-2030. Hal ini sejalan dengan
laporan PBB, yang menyatakan bahwa dibandingkan dengan negara Asia lainnya,
angka ketergantungan penduduk Indonesia akan terus turun sampai 2020. Pada
periode itu akan terdapat peluang lebih besar untuk melakukan investasi manusia
guna mendorong produksi.
Tentu
saja ini merupakan suatu berkah. Melimpahnya jumlah penduduk usia kerja akan
menguntungkan dari sisi pembangunan sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi
ke tingkat yang lebih tinggi. Impasnya adalah meningkatkannya kesejahteraan
masyarakat secara keseluruhan. Namun berkah ini bisa berbalik menjadi bencana
jika bonus ini tidak dipersiapkan kedatangannya. Masalah yang paling nyata
adalah ketersedian lapangan pekerjaan. Kalaupun tersedia lapangan pekerjaan, mampukan
sumber daya manusia yang melimpah ini bersaing dengan dunia kerja dan pasar
internasional? Permasalahan pembangunan sumber
daya manusia inilah yang harusnya bisa diselesaikan dari sekarang, jauh sebelum
bonus demografi datang. Jangan sampai hal yang menjadi berkah justru membawa
bencana dan membebani negara karena masalah yang mendasar: kualitas manusia.
5. Angka Kelahiran Kasar (Crude
Birth Rate)
Angka
Kelahiran Kasar (Crude Birth
Rate/CBR) merupakan angka yang menunjukkan banyaknya kelahiran pada
tahun tertentu per 1000 penduduk pada pertengahan tahun yang sama. Angka
kelahiran kasar dihitung untuk mengetahui tingkat kelahiran yang terjadi di
suatu daerah tertentu pada waktu tertentu. Menurut
data dari CIA World Factbook, saat ini (tahun 2015) angka kelahiran kasar di Indonesia berada pada angka 17 di setiap 1000 penduduk di Indonesia. Negara Indonesia berada pada
peringkat 110 dari 224 negara di dunia.
6.
Angka Kelahiran Total (Total Fertility Rate)
Angka Fertilitas Total (Total Fertility Rate/TFR) adalah rata-rata
anak yang dilahirkan seorang wanita selama masa usia suburnya. TFR merupakan
gambaran mengenai rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan dari
usia 15 sampai 49 tahun. Perbandingan angka TFR antar negara atau antar daerah
dapat menunjukkan keberhasilan daerah dalam melaksanakan pembangunan sosial
ekonominya. Angka TFR yang tinggi dapat merupakan cerminan rata-rata usia kawin
yang rendah, tingkat pendidikan yang rendah terutama perempuannya,
tingkat sosial ekonomi rendah atau tingkat kemiskinan yang tinggi. Selain itu
tentu saja menunjukkan tingkat keberhasilan program KB yang dilaksanakan selama
tiga dekade ini.
![]() |
| sumber: infodatin Kementrian Kesehatan RI 2014 |
Dari angka kelahiran total,
dapat diketahui indikator yang menyangkut kesehatan ibu. Jika angka kelahiran
total tinggi maka hal ini mencerminkan rata-rata usia kawin yang rendah,
tingkat pendidikan perempuan yang rendah, tingkat sosial ekonomi rendah, dan
tingkat kemiskinan tinggi. Total Fertility Rate Indonesia pada tahun 2012 mencapai 2,6, artinya seorang wanita memiliki 2-3 anak dalam usia suburnya. Dengan
TFR 2,6, Indonesia masih berada di atas rata-rata TFR Negara ASEAN yaitu 2,4
dan memiliki potensi untuk angka kelahiran yang tinggi, dan
berada pada peringkat 106 di dunia, setara dengan El Salvador dan Bangladesh.
7.
Angka Harapan
Hidup
Angka Harapan Hidup adalah rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani
oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umur x, pada suatu tahun tertentu,
dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Angka Harapan Hidup
merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan
kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada
khususnya. Angka Harapan Hidup yang rendah di suatu daerah harus diikuti dengan
program pembangunan kesehatan, dan program sosial lainnya termasuk kesehatan
lingkungan, kecukupan gizi dan kalori termasuk program pemberantasan
kemiskinan.
Sabtu, 06 Juli 2013
Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO adalah 10 s/d 19 tahun, namun jika pada usia remaja sudah menikah maka ia sudah tergolong dalam kelompok dewasa. Sebaliknya jika usia remaja sudah dilewati tapi masih tergantung pada orang tua maka ia masih digolongkan dalam kelompok remaja. Anak sekolah tingkat SLTP/SLTA memasuki usia remaja dimana pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang pesat baik fisik, psikologis maupun intelektual dengan permasalahan-permasalahan yang begitu kompleks. Oleh sebab itu masa remaja merupakan tahap penting dalam siklus kehidupan manusia, dikatakan penting karena merupakan peralihan dari masa anak yang sangat tergantung kepada orang lain ke masa dewasa yang mandiri dan bertanggung jawab, masa ini juga mengandung resiko akibat suatu masa transisi yang selalu membawa ciri-ciri tertentu, yaitu kebimbangan, kebingungan dan gejolak remaja seperti masalah seks, kejiwaan dan tingkah laku eksperimental (selalu ingin mencoba). Dengan kelabilan emosi remaja tersebut dan tingkah laku eksperimentalnya yang menggunung, maka tidak mustahil para remaja mencoba sesuatu yang ‘tidak biasa’ yaitu menikah pada usia dini. Potret ini biasa kita jumpai pada daerah-daerah pedesaan yang kurang mengerti akan pendidikan dan kesehatan reproduksi, bahkan dibeberapa tempat banyak remaja yang memutuskan menikah setelah tamat Sekolah Dasar (SD), ini tentu sangat ironi karena hal tersebut bisa berakibat kurang baik bagi kesehatannya (alat reproduksi).
Jika potret pernikahan dini (hamil usia remaja) biasa dijumpai di pedesaan, namun di perkotaan pernikahan usia belia memang sangat jarang dijumpai, akan tetapi ini bukan berarti remaja kota terbebas dari kontaminasi hamil di usia remaja, hanya saja kontennya yang berbeda. Derasnya arus informasi turut menyumbang tingkah polah remaja yang yang secara sadar ataupun tidak telah keluar dari koridor agama yang tercermin dari free sex sehingga berujung pada hamil pra nikah, hal ini jauh lebih berbahaya dari pada potret hamil usia remaja di pedesaan (menikah usia belia) karena akibatnya bukan hanya pada remaja tersebut, melainkan keluargapun ikut kena dampaknya karena akan merusak citra keluarga di mata masyarakat.
Terlepas dari apapun yang melatarbelakangi kehamilan remaja usia dini, tetap saja mendatangkan resiko tersendiri, baik itu secara psikis, kesehatan reproduksi ibu, serta keselamatan ibu dan bayi yang menjadi taruhan.
3. Hipertensi
6. Resiko Tertular Penyakit Menular Seksual (PMS)
7. Depresi Pasca Melahirkan
read more
Jika potret pernikahan dini (hamil usia remaja) biasa dijumpai di pedesaan, namun di perkotaan pernikahan usia belia memang sangat jarang dijumpai, akan tetapi ini bukan berarti remaja kota terbebas dari kontaminasi hamil di usia remaja, hanya saja kontennya yang berbeda. Derasnya arus informasi turut menyumbang tingkah polah remaja yang yang secara sadar ataupun tidak telah keluar dari koridor agama yang tercermin dari free sex sehingga berujung pada hamil pra nikah, hal ini jauh lebih berbahaya dari pada potret hamil usia remaja di pedesaan (menikah usia belia) karena akibatnya bukan hanya pada remaja tersebut, melainkan keluargapun ikut kena dampaknya karena akan merusak citra keluarga di mata masyarakat.
Terlepas dari apapun yang melatarbelakangi kehamilan remaja usia dini, tetap saja mendatangkan resiko tersendiri, baik itu secara psikis, kesehatan reproduksi ibu, serta keselamatan ibu dan bayi yang menjadi taruhan.
Berikut beberapa resiko yang timbul dari kehamilan usia dini, antara lain:
1. Kurangnya Perawatan Selama Hamil dan Sebelum Melahirkan
1. Kurangnya Perawatan Selama Hamil dan Sebelum Melahirkan
Gadis remaja yang hamil terutama jika tidak mendapatkan dukungan dari keluarganya sangat berisiko mengalami kekurangan dalam hal perawatan selama hamil dan sebelum melahirkan. Padahal perawatan ini sangat penting terutama di bulan-bulan awal kehamilan. Perawatan ini berguna untuk memantau kondisi medis ibu dan bayi serta pertumbuhannya, sehingga jika ada komplikasi bisa tertangani dengan cepat.
2. Mengalami Pendarahan
Perdarahan pada saat melahirkan antara lain disebabkan karena otot rahim yang terlalu lemah dalam proses involusi. selain itu juga disebabkan selaput ketuban stosel (bekuan darah yang tertinggal di dalam rahim).kemudian proses pembekuan darah yang lambat dan juga dipengaruhi oleh adanya sobekan pada jalan lahir
3. Hipertensi
Remaja yang hamil memiliki risiko mengalami tekanan darah tinggi atau disebut dengan pregnancy-induced hypertension, dibandingkan dengan perempuan yang hamil diusia matang. Kondisi ini memicu terjadinya preeclampsia, yaitu kondisi medis berbahaya yang menggabungkan tekanan darah tinggi dengan kelebihan protein dalam urin, pembengkakan tangan dan wajah ibu serta kerusakan organ. Pada pre eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilakui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tekanan darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui sebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus (Sinopsis Obstetri, Jilid I, Halaman 199).
4. Efek preeklampsia bagi janin
Preeklampsia dapat menyebabkan gangguan peredaran darah pada plasenta. Hal ini akan menyebabkan berat badan bayi yang dilahirkan relatif kecil. Selain itu, preeklampsia juga dapat menyebabkan terjadinya kelahiran prematur dan komplikasi lanjutan dari kelahiran prematur yaitu keterlambatan belajar, epilepsi, sereberal palsy, dan masalah pada pendengaran dan penglihatan
5. Kelahiran prematur
Prematuritas terjadi karena kurang matangnya alat reproduksi terutama rahim yang belum siap dalam suatu proses kehamilan, berat badan lahir rendah (BBLR) juga dipengaruhi gizi saat hamil kurang dan juga umur ibu yang belum menginjak 20 tahun. cacat bawaan dipengaruhi kurangnya pengetahuan ibu tentang kehamilan, pengetahuan akan asupan gizi rendah, pemeriksaan kehamilan (ANC) kurang, keadaan psikologi ibu kurang stabil. selain itu cacat bawaan juga di sebabkan karena keturunan (genetik) proses pengguguran sendiri yang gagal, seperti dengan minum obat-obatan (gynecosit sytotec) atau dengan loncat-loncat dan memijat perutnya sendiri.
Ibu yang hamil pada usia muda biasanya pengetahuannya akan gizi masih kurang, sehingga akan berakibat kekurangan berbagai zat yang diperlukan saat pertumbuhan dengan demikian akan mengakibatkan makin tingginya kelahiran prematur, berat badan lahir rendah dan cacat bawaan.
6. Resiko Tertular Penyakit Menular Seksual (PMS)
Remaja yang melakukan hubungan seks memiliki risiko tertular penyakit seksual seperti chlamydia dan HIV. Hal ini sangat penting untuk diwaspadai karena PMS bisa menyebabkan gangguan pada serviks (mulut rahim) atau menginfeksi rahim dan janin yang sedang dikandung.
7. Depresi Pasca Melahirkan
Kehamilan yang terjadi pada saat remaja, terlebih yang tidak mendapat dukungan dari suami (yang menghamili) berisiko tinggi mengalami depresi pasca melahirkan. Depresi ini bisa mengganggu perawatan bayi yang baru lahir dan juga perkembangan remaja tersebut ke depannya, karena umurnya yang belasan tahun sudah harus mengurusi anak, ditambah lagi jika dalam pengurusannya tidak ditunjang oleh dukungan suami (bagi remaja yang sudah menikah) dan oleh laki-laki yang menghamili (bagi remaja yang hamil di luar nikah).
8. Keguguran
Keguguran pada hamil usia muda dapat terjadi secara tidak disengaja, misalnya karena terkejut, cemas, stres. Tetapi ada juga keguguran yang sengaja dilakukan oleh tenaga non profesional sehingga dapat menimbulkan akibat efek samping yang serius seperti tingginya angka kematian dan infeksi alat reproduksi yang pada akhirnya dapat menimbulkan kemandulan.
9. Anemia Kehamilan
Anemia gizi lebih sering dijumpai dalam kehamilan karena pada masa ini terjadi peningkatan kebutuhan zat-zat makanan untuk mendukung perubahan-perubahan fisiologis selama hamil. Penyebab anemia pada saat hamil di usia muda disebabkan kurang pengetahuan akan pentingnya gizi pada saat hamil di usia muda, karena pada saat hamil mayoritas seorang ibu mengalami anemia. tambahan zat besi dalam tubuh fungsinya untuk meningkatkan jumlah sel darah merah, membentuk sel darah merah janin dan plasenta, lama kelamaan seorang yang kehilangan sel darah merah akan menjadi anemis.
10. Keracunan Kehamilan (Gestosis)
Kombinasi keadaan alat reproduksi yang belum siap hamil dan anemia makin meningkatkan terjadinya keracunan hamil dalam bentuk pre-eklampsia atau eklampsia. Pre-eklampsia dan eklampsia memerlukan perhatian serius karena dapat menyebabkan kematian.
Wah sobat,, begitu mengerikan bukan?? Oleh karena itu Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) meluncurkan program GenRe (Generasi Berencana) untuk mencegah teerjadinya pernikahan di usia dini dan membentuk generasi muda Indonesia menjadi generasi yang dinamis dan berpikiran cerah untuk masa depan.
Salam GenRe ! :)
read more
Berikut adalah 10 negara dengan populasi tertinggi di dunia.
Peringkat berapakah Negara kita tercinta Indonesia??Wacth it out :)
1. China (1,345,751,000)
Cina, atau People's Republic of China, adalah negara dengan populasi terbesar di dunia. Jika penduduk daerah otonom khusus Hong Kong dan Makau juga diperhitungkan, penduduk Cina bisa lebih tinggi. Juga akan lebih tinggi kalau bukan karena peraturan keluarga dengan satu anak yang telah dilakukan sejak tahun 1979, dengan tujuan khusus membatasi populasi. Hal ini memiliki pengaruh yang cukup besar, dan telah diperkirakan oleh pemerintah Cina bahwa kebijakan ini telah mencegah lebih dari 250 juta kelahiran tambahan pada periode 1980-2000 jadi pada saat ini dapat diasumsikan bahwa kebijakan tersebut memiliki dampak yang lebih besar penduduk dan Cina akan berputar pada angka 1,5 miliar.
2. India (1,198,003,000)
India adalah salah satu dari hanya dua negara di dunia dengan penduduk lebih dari 1 miliar. Terletak di Asia selatan, berbatasan dengan enam negara lainnya - Pakistan, Cina, Nepal, Bhutan, Burma dan Bangladesh. Populasi India beragam, dengan berbagai agama besar. Hindu adalah agama dominan dengan lebih dari 80% dari populasi penganutnya, sejumlah besar orang mengikuti agama-agama lain karena besarnya jumlah penduduk negeri. Hal ini kadang-kadang menimbulkan perselisihan antar masyarakat. Penduduk India terus tumbuh, bersama dengan ekonomi dan banyak orang memprediksikannya menjadi negara adidaya masa depan. Dengan jumlah penduduk hampir 1,2 miliar, India adalah negara demokrasi terbesar di dunia dan negara dengan penduduk terbesar kedua di dunia.
3. United States of America (314,659,000)
Amerika Serikat adalah negara dengan populasi terbesar ke-3 di dunia. Amerika Serikat adalah negara yang luas, dengan ke-3 luas daratan terbesar dari semua negara di dunia. Amerika Serikat, juga dikenal sebagai Amerika Serikat, AS atau Amerika Serikat sekarang adalah satu-satunya negara adikuasa sejati di dunia, baik secara ekonomi, budaya dan militer. saat ini Amerika Serikat adalah 3 pada daftar teratas 10 negara dengan penduduk terbesar, dan kemungkinan untuk tetap begitu untuk sementara karena pertumbuhan penduduk asli dan imigrasi memuliki tingkat yang besar.
4. Indonesia (229,965,00)
Indonesia adalah bangsa yang memilki ribuan pulau. Indonesia memiliki penduduk tertinggi dari setiap negara yang mayoritasnya Muslim. Namun, ada minoritas yang cukup besar dari kelompok-kelompok non-Islam. Lebih dari setengah populasi tinggal di pulau Jawa, meskipun pulau jawa kurang dari 10% dari total luas daratan Indonesia. Hal ini membuat Jawa pulau terpadat di dunia, yaitu memilki 130 juta orang. Sebagian besar pulau di Indonesia adalah vulkanik dan ditutupi hutan hujan. Dengan jumlah penduduk hampir 230 juta jiwa Indonesia merupakan negara keempat terpadat di dunia.
5. Brazil (193,734,000)
Brasil adalah negara dengan daratan terbesar di Amerika Selatan, dan juga satu-satunya negara Amerika Selatan yang masuk ke dalam 10 negara dengan penduduk terbesar. Negara ini didominasi oleh hutan hujan Amazon dan sungai-sungai yang berlokasi di utara, barat dan wilayah tengah. Namun, mayoritas penduduk terletak di bagian tenggara negara itu, di sekitar kota-kota seperti Rio de Janiero dan Sao Paulo. Dengan jumlah penduduk lebih dari 190 juta, Brasil adalah negara dengan populasi terbesar kelima di dunia.
6. Pakistan (180,808,000)
Pakistan adalah negara Asia Selatan, yang memiliki populasi yang besar. Di utara dan barat terdapat pegunungan, sedangkan di timur terdapat dataran subur. Sebuah negara yang memiliki banyak masalah sejak kemerdekaan dan masih terus berkembang meskipun penduduk dengan tinkat pertumbuhan yang relatif tinggi hampir 2%. Paskistan adalah negara dengan populasi terbesar keenam di dunia dengan populasi lebih dari 180 juta.
7. Bangladesh (162,221,000)
Dengan populasi lebih dari 162 juta, Bangladesh memiliki jumlah penduduk terbesar ke-7 di dunia. Bangladesh adalah negara di Asia Selatan, dan memiliki perbatasan darat dengan India dan Burma. Nigeria adalah salah satu negara yang paling padat penduduknya di dunia. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar wilayah nigeria yang terletak di dataran banjir dan membuat lahan menjadi sangat subur. Penduduk Bangladesh terus tumbuh di lebih dari 1% per tahun.
8. Nigeria (154,729,000)
Nigeria adalah negara ke-8 terpadat di dunia, dan satu-satunya negara Afrika yang masuk ke dalam top 10. Penduduk Nigeria dibagi menjadi dua, dengan bagian utara didominasi Muslim dan setengah bagian selatan didominasi Kristen dan percekcokan antar warga sipil di sepanjang garis agama kadang-kadang dapat terjadi. Namun, Nigeria juga dianggap sebagai negara dengan prospek ekonomi yang besar. Saat ini laju pertumbuhan penduduk masih relatif tinggi, yaitu 1,999%, sehingga populasi nigeria bahkan dapat jauh lebih besar di masa depan.
9. Russia (140,874,000)
Rusia adalah bangsa yang relatif baru, russia berdiri pada tahun 1991 setelah pecah dari Uni Soviet (USSR). Ini adalah negara yang luas, menyebar di banyak bagian utara Eropa dan Asia. Ini adalah negara terbesar di dunia dalam hal daratan. Seperti Jepang, penduduk Rusia menurun drastis. Namun hal ini membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan russia memiliki populasi hampir 141 juta pada tahun 2009. Tingkat ini menjadikan Rusia dengan populasi terbesar ke-9 di dunia.
10. Japan (127,156,000)
Jepang memiliki populasi lebih dari 127 juta, Jepang adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar kesepuluh. Ini adalah sebuah negara kepulauan lepas dari pantai timur Asia, dan merupakan salah satu negara yang paling maju di planet ini. Akibatnya laju pertumbuhan penduduk menjadi negatif, yang berarti bahwa penduduk Jepang kini menyusut, karena kelahiran rendah dan angka kematian yang relatif tinggi.
Salam GenRe ! :)
read more
Peringkat berapakah Negara kita tercinta Indonesia??Wacth it out :)
1. China (1,345,751,000)
Cina, atau People's Republic of China, adalah negara dengan populasi terbesar di dunia. Jika penduduk daerah otonom khusus Hong Kong dan Makau juga diperhitungkan, penduduk Cina bisa lebih tinggi. Juga akan lebih tinggi kalau bukan karena peraturan keluarga dengan satu anak yang telah dilakukan sejak tahun 1979, dengan tujuan khusus membatasi populasi. Hal ini memiliki pengaruh yang cukup besar, dan telah diperkirakan oleh pemerintah Cina bahwa kebijakan ini telah mencegah lebih dari 250 juta kelahiran tambahan pada periode 1980-2000 jadi pada saat ini dapat diasumsikan bahwa kebijakan tersebut memiliki dampak yang lebih besar penduduk dan Cina akan berputar pada angka 1,5 miliar.
2. India (1,198,003,000)
India adalah salah satu dari hanya dua negara di dunia dengan penduduk lebih dari 1 miliar. Terletak di Asia selatan, berbatasan dengan enam negara lainnya - Pakistan, Cina, Nepal, Bhutan, Burma dan Bangladesh. Populasi India beragam, dengan berbagai agama besar. Hindu adalah agama dominan dengan lebih dari 80% dari populasi penganutnya, sejumlah besar orang mengikuti agama-agama lain karena besarnya jumlah penduduk negeri. Hal ini kadang-kadang menimbulkan perselisihan antar masyarakat. Penduduk India terus tumbuh, bersama dengan ekonomi dan banyak orang memprediksikannya menjadi negara adidaya masa depan. Dengan jumlah penduduk hampir 1,2 miliar, India adalah negara demokrasi terbesar di dunia dan negara dengan penduduk terbesar kedua di dunia.
3. United States of America (314,659,000)
Amerika Serikat adalah negara dengan populasi terbesar ke-3 di dunia. Amerika Serikat adalah negara yang luas, dengan ke-3 luas daratan terbesar dari semua negara di dunia. Amerika Serikat, juga dikenal sebagai Amerika Serikat, AS atau Amerika Serikat sekarang adalah satu-satunya negara adikuasa sejati di dunia, baik secara ekonomi, budaya dan militer. saat ini Amerika Serikat adalah 3 pada daftar teratas 10 negara dengan penduduk terbesar, dan kemungkinan untuk tetap begitu untuk sementara karena pertumbuhan penduduk asli dan imigrasi memuliki tingkat yang besar.
4. Indonesia (229,965,00)
Indonesia adalah bangsa yang memilki ribuan pulau. Indonesia memiliki penduduk tertinggi dari setiap negara yang mayoritasnya Muslim. Namun, ada minoritas yang cukup besar dari kelompok-kelompok non-Islam. Lebih dari setengah populasi tinggal di pulau Jawa, meskipun pulau jawa kurang dari 10% dari total luas daratan Indonesia. Hal ini membuat Jawa pulau terpadat di dunia, yaitu memilki 130 juta orang. Sebagian besar pulau di Indonesia adalah vulkanik dan ditutupi hutan hujan. Dengan jumlah penduduk hampir 230 juta jiwa Indonesia merupakan negara keempat terpadat di dunia.
5. Brazil (193,734,000)
Brasil adalah negara dengan daratan terbesar di Amerika Selatan, dan juga satu-satunya negara Amerika Selatan yang masuk ke dalam 10 negara dengan penduduk terbesar. Negara ini didominasi oleh hutan hujan Amazon dan sungai-sungai yang berlokasi di utara, barat dan wilayah tengah. Namun, mayoritas penduduk terletak di bagian tenggara negara itu, di sekitar kota-kota seperti Rio de Janiero dan Sao Paulo. Dengan jumlah penduduk lebih dari 190 juta, Brasil adalah negara dengan populasi terbesar kelima di dunia.
6. Pakistan (180,808,000)
Pakistan adalah negara Asia Selatan, yang memiliki populasi yang besar. Di utara dan barat terdapat pegunungan, sedangkan di timur terdapat dataran subur. Sebuah negara yang memiliki banyak masalah sejak kemerdekaan dan masih terus berkembang meskipun penduduk dengan tinkat pertumbuhan yang relatif tinggi hampir 2%. Paskistan adalah negara dengan populasi terbesar keenam di dunia dengan populasi lebih dari 180 juta.
7. Bangladesh (162,221,000)
Dengan populasi lebih dari 162 juta, Bangladesh memiliki jumlah penduduk terbesar ke-7 di dunia. Bangladesh adalah negara di Asia Selatan, dan memiliki perbatasan darat dengan India dan Burma. Nigeria adalah salah satu negara yang paling padat penduduknya di dunia. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar wilayah nigeria yang terletak di dataran banjir dan membuat lahan menjadi sangat subur. Penduduk Bangladesh terus tumbuh di lebih dari 1% per tahun.
8. Nigeria (154,729,000)
Nigeria adalah negara ke-8 terpadat di dunia, dan satu-satunya negara Afrika yang masuk ke dalam top 10. Penduduk Nigeria dibagi menjadi dua, dengan bagian utara didominasi Muslim dan setengah bagian selatan didominasi Kristen dan percekcokan antar warga sipil di sepanjang garis agama kadang-kadang dapat terjadi. Namun, Nigeria juga dianggap sebagai negara dengan prospek ekonomi yang besar. Saat ini laju pertumbuhan penduduk masih relatif tinggi, yaitu 1,999%, sehingga populasi nigeria bahkan dapat jauh lebih besar di masa depan.
9. Russia (140,874,000)
Rusia adalah bangsa yang relatif baru, russia berdiri pada tahun 1991 setelah pecah dari Uni Soviet (USSR). Ini adalah negara yang luas, menyebar di banyak bagian utara Eropa dan Asia. Ini adalah negara terbesar di dunia dalam hal daratan. Seperti Jepang, penduduk Rusia menurun drastis. Namun hal ini membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan russia memiliki populasi hampir 141 juta pada tahun 2009. Tingkat ini menjadikan Rusia dengan populasi terbesar ke-9 di dunia.
10. Japan (127,156,000)
Jepang memiliki populasi lebih dari 127 juta, Jepang adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar kesepuluh. Ini adalah sebuah negara kepulauan lepas dari pantai timur Asia, dan merupakan salah satu negara yang paling maju di planet ini. Akibatnya laju pertumbuhan penduduk menjadi negatif, yang berarti bahwa penduduk Jepang kini menyusut, karena kelahiran rendah dan angka kematian yang relatif tinggi.
Salam GenRe ! :)
read more
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan “per waktu unit” untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan sering digunakan secara informal untuk sebutan demografi nilai pertumbuhan penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk dunia. (menurut Wikipedia)
Pertumbuhan penduduk masih menjadi masalah yang harus dikaji dengan serius di sebagian besar negara-negara berkembang di dunia termasuk Indonesia karena hal ini dapat berpengaruh ke berbagai faktor masyarakat negara juga faktor yang sangat vital yaitu tingkat pendidikan.
Berdasarkan perhitungan Data Statistik dalam dekade 1990-2000, penduduk Indonesia bertambah dengan kecepatan 1,49 persen per tahun. Pertumbuhan penduduk Indonesia yang masih relatif tinggi sangat menjadi perhatian pemerintah.
Pertumbuhan penduduk masih menjadi masalah yang harus dikaji dengan serius di sebagian besar negara-negara berkembang di dunia termasuk Indonesia karena hal ini dapat berpengaruh ke berbagai faktor masyarakat negara juga faktor yang sangat vital yaitu tingkat pendidikan.
Berdasarkan perhitungan Data Statistik dalam dekade 1990-2000, penduduk Indonesia bertambah dengan kecepatan 1,49 persen per tahun. Pertumbuhan penduduk Indonesia yang masih relatif tinggi sangat menjadi perhatian pemerintah.
Hal
yang paling dihindari dari suatu pertumbuhan penduduk yaitu terjadinya ledakan
penduduk, karena hal ini akan berdampak buruk kedepannya terhadap masyarakat di
suatu negara dan akan sulit untuk mengatasinya jika tidak secara bersama semua
pihak yang prihatin terhadap kondisi ini, hal ini dapat diatasi dalam kurun
waktu yang lama. Dan yang paling vital adalah dampaknya terhadap perkembangan pendidikan Indonesia. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Kaitan antara pertumbuhan penduduk dengan pendidikan adalah semakin banyak populasi penduduk otomatis semakin memperbesar kemungkinan ketidakmerataan pendidikan itu sendiri. Bahkan berkemungkinan lebih banyaknya angka putus sekolah serta angka wajib belajar yang semakin menurun. Hal ini perlu dicari bagaimana solusi yang tepat untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang disebabkan tingginya pertumbuhan penduduk tersebut.
Pemerintah sendiri telah berupaya untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut, diantaranya :
Keluarga Berencana adalah upaya peningkatkan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang bahagia sejahtera (Undang-undang No. 10/1992). Ini merupakan salah satu program mencegah ledakan penduduk.
Generasi Berencana (GENRE) adalah suatu program di bawah naungan BKKBN yang dikembangkan dalam rangka penyiapan dan perencanaan kehidupan berkeluarga bagi remaja. Ini juga merupakan bentuk program dalam pencegahan ledakan penduduk. Genre bertujuan untuk memfasilitasi remaja agar belajar memahami dan mempraktikan perilaku hidup sehat dan berakhlak untuk mencapai ketahanan remaja sebagai dasar mewujudkan Generasi Berencana. Genre memiliki sasaran:
- Remaja (10-24 tahun) dan belum menikah
- Mahasiswa/Mahasiswi belum menikah
- Keluarga / Keluarga yang punya remaja
- Masyarakat yang peduli terhadap remaja
- Remaja (10-24 tahun) dan belum menikah
- Mahasiswa/Mahasiswi belum menikah
- Keluarga / Keluarga yang punya remaja
- Masyarakat yang peduli terhadap remaja
Wajib Belajar 9 Tahun merupakan salah satu program yang gencar digalakkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Program ini mewajibkan setiap warga negara Indonesia untuk bersekolah selama 9 (sembilan) tahun pada jenjang pendidikan dasar, yaitu dari tingkat kelas 1 Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga kelas 9 Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs). Wajib Belajar merupakan salah satu cara mengatasi masalah pendidikan
akibat ledakan penduduk.
read more
Untuk itu, kita sebagai warga negara yang baik serta generasi muda yang dinamis hendaknya ikut memdukung program-program pemerintah dengan ikut mempropagandakannya dan tentu saja menjadi Generasi Berencana yang berprestasi !
Salam GenRe ! :)
Langganan:
Postingan (Atom)



















.jpg)